Terduga Pelaku Pencurian Brankas KOPENDAS Terekam CCTV Gunakan NMAX Biru di Soppeng

SOPPENG — Kasus pencurian brankas milik Koperasi Pendidikan Agama Soppeng (KOPENDAS) di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Soppeng hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar.

Peristiwa yang terjadi sejak 2022 itu belum juga mengungkap pelaku, meski telah berjalan lebih dari tiga tahun.

Kasus ini kembali menjadi sorotan publik setelah beredarnya rekaman CCTV yang memperlihatkan terduga pelaku menggunakan sepeda motor jenis Yamaha NMAX berwarna biru di Jalan Kemakmuran, Kabupaten Soppeng.

Namun, hingga saat ini, rekaman tersebut belum mampu mengidentifikasi wajah pelaku secara jelas.

Ironisnya, brankas koperasi yang sempat hilang diketahui telah ditemukan di wilayah Tessiabeng, Kecamatan Liliriaja. Meski demikian, temuan tersebut tidak diikuti dengan pengungkapan pelaku.

Kondisi ini memicu pertanyaan publik mengenai efektivitas penyelidikan yang dilakukan aparat penegak hukum.

“Bagaimana mungkin barang bukti sudah ditemukan, tetapi pelaku belum juga terungkap?” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Kasat Reskrim Polres Soppeng, AKP Dodie Rama Putra, menyampaikan bahwa penyelidikan masih terus berjalan. Ia mengakui bahwa kendala utama dalam pengungkapan kasus ini terletak pada keterbatasan rekaman CCTV.

“Identifikasi wajah pelaku dari rekaman CCTV belum dapat dipastikan. Kami sudah berkoordinasi dengan Polda maupun Polres jajaran, baik di wilayah Sulsel maupun luar wilayah, namun belum ada kecocokan identitas yang pasti,” ujarnya, beberapa hari yang lalu, Jumat (27/3/2026).

Menurutnya, koordinasi lintas wilayah terus dilakukan guna mempercepat proses pengungkapan kasus.

Sementara itu, Kanit Resmob Polres Soppeng, Aiptu Jumaldi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memeriksa seluruh pengurus koperasi, termasuk mantan Kepala Departemen Agama Kabupaten Soppeng.

“Semua pihak pengurus sudah diperiksa. Terkait brankas yang ditemukan, kondisinya sudah dirusak oleh pelaku. Kami berharap ada petunjuk baru dan kasus ini tetap kami tindak lanjuti,” jelasnya. Selasa, 31 Maret 2026.

Lambannya perkembangan kasus memicu kecurigaan di tengah masyarakat. Sejumlah nasabah mulai mendesak agar penyelidikan tidak hanya fokus pada pelaku eksternal, tetapi juga membuka kemungkinan adanya keterlibatan orang dalam.

“Jangan hanya cari pelaku di luar. Harus berani bongkar kalau memang ada keterlibatan internal,” tegas salah satu nasabah.

Desakan ini mencerminkan meningkatnya tekanan publik terhadap aparat penegak hukum agar lebih transparan dan profesional dalam menangani kasus tersebut.

Kasus ini tidak hanya berdampak pada aspek hukum, tetapi juga menyentuh kepercayaan publik terhadap lembaga koperasi dan institusi penegak hukum.

Minimnya informasi perkembangan penyelidikan dinilai memperkeruh situasi dan memicu spekulasi di tengah masyarakat.

Nasabah berharap adanya keterbukaan dari pihak koperasi maupun kepolisian agar kepercayaan terhadap lembaga keuangan berbasis masyarakat tersebut tetap terjaga.

“Ini bukan hanya soal pencurian, tapi soal kepercayaan. Kami ingin kepastian hukum,” ujar salah satu nasabah.

Diketahui, brankas yang dicuri diduga berisi dokumen penting serta sejumlah uang milik koperasi. Hingga kini, identitas pelaku masih belum terungkap.

Masyarakat pun berharap aparat kepolisian dapat segera mengungkap kasus ini secara terang benderang.

Jika tidak segera dituntaskan, kasus ini berpotensi menimbulkan krisis kepercayaan yang lebih luas terhadap sistem keamanan dan penegakan hukum di daerah.