Soppeng – Seorang warga asal Kabupaten Bulukumba yang juga merupakan ketua kelompok sopir mobil travel mengaku kecewa terhadap salah satu oknum anggota Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Soppeng yang diduga melakukan pungutan liar kepada sejumlah sopir travel yang melintas di wilayah tersebut.
Warga Bulukumba bernama Mappi menuturkan kronologi kejadian tersebut kepada media ini, Jumat (6/3/2026). Ia menjelaskan bahwa puluhan mobil travel yang melintas di wilayah Soppeng disebut berada dalam “binaan” pihak tertentu, termasuk sejumlah sopir travel rute Bulukumba–Parepare.
Menurutnya, dalam kelompok yang ia pimpin terdapat sekitar 15 unit mobil travel yang bergabung. Para sopir disebut diminta menyetor uang sebesar Rp100.000 per bulan untuk setiap kendaraan.
“Jumlah mobil yang bergabung sekitar 15 unit. Jadi kalau Rp100.000 per mobil, totalnya Rp1.500.000 per bulan,” ujar Mappi.
Ia mengaku, selama ini dirinya yang terlebih dahulu menanggung pembayaran setoran tersebut sebelum kemudian menagih kepada para sopir yang tergabung dalam kelompoknya. Hal itu dilakukan karena tidak semua sopir selalu beroperasi ke Parepare setiap waktu.
“Saya ini ketuanya sopir Bulukumba–Parepare, jadi setiap masa pembayaran saya dulu yang bayar semua baru menagih ke anggota. Karena ada sopir yang ke Parepare, ada juga yang tidak,” katanya.
Mappi menyebut, setoran tersebut sebelumnya bahkan sempat mencapai Rp150.000 per mobil selama sekitar empat bulan. Namun karena banyak sopir mengeluhkan besarnya beban tersebut, akhirnya jumlahnya diturunkan menjadi Rp100.000 per mobil setiap bulan.
Meski demikian, ia mengaku kecewa karena menurutnya permintaan setoran kembali dilakukan sebelum waktu pembayaran yang telah disepakati.
“Perjanjian saya dengan oknum polisi tersebut, saya menyetor setiap tanggal 15. Tapi baru tanggal 7 sudah diminta lagi setoran, dan seteran sudah berjalanlebih satu tahun, dan untuk bulan ini Maret 2026 sudah tidak menyetor lagi” ungkapnya.
Ia juga menyebut oknum yang dimaksud berinisial P, yang disebutnya menjabat sebagai Kanit Turjawali Satlantas Polres Soppeng.
Menurut Mappi, para sopir travel tersebut biasanya mengangkut penumpang langsung dari rumah menuju Pelabuhan Parepare, maupun sebaliknya dari pelabuhan ke rumah penumpang.
“Kami ambil penumpang dari rumahnya ke pelabuhan Parepare, dan dari pelabuhan ke rumah penumpang. Bukan ambil di jalan,” jelasnya.
Akibat situasi tersebut, sebagian sopir travel disebut memilih keluar dari kelompok atau berhenti beroperasi karena merasa keberatan dengan setoran yang diminta.
Ia juga mengaku setelah sebagian sopir travel bubar, mereka merasa semakin dipersulit ketika melintas di wilayah Soppeng.
“Sekarang kalau lewat Soppeng kadang dipersulit. Jadi kalau singgah biasanya anggota kasih uang Rp50.000,” ujarnya.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak media ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada Kanit Turjawali Satlantas Polres Soppeng berinisial P melalui sambungan telepon seluler dan pesan singkat. Namun yang bersangkutan belum memberikan tanggapan.
Pihak media ini juga belum memperoleh keterangan resmi dari Kapolres Soppeng terkait dugaan tersebut.
Berita ini diturunkan sebagai bentuk informasi awal kepada publik, dan redaksi membuka ruang klarifikasi dari pihak terkait guna memperoleh informasi yang berimbang. (Tim)







